Minggu, 03 Juli 2011

Profil Hugo Sanchez

Hugo Sanchez*

Di era ’80-an, Real Madrid identik dengan namanya. Hugo Sanchez memang goleador terbesar El Real kala itu. Duetnya dengan Butragueno melegenda. Dia pichichi yang tak terlupakan.

Pada era ’80-an, bintang-bintang terbesar dunia lebih banyak yang merupakan pemain tengah. Sebutlah Maradona, Platini, Socrates, atau Zico. Jarang ada pemain terbesar yang beraksi sebagai ujung tombak. Salah satunya adalah Hugo Sanchez.

Betul, Hugo Sanchez adalah salah satu striker termahsyur dunia pada era ’80-an. Dia datang dari tengah-tengah komunitas Indian Inca di Meksiko, lantas berkibar di Eropa dan dunia bersama Real Madrid. Gayanya saat mencetak gol sangat khas. Melakukan gerakan seperti seorang pesenam.

Gaya itu diadopsi Hugo dari seorang saudara perempuannya yang memang seorang pesenam. Ketika masih bocah, Hugo dan saudaranya itu sering belajar senam bersama, dengan menggunakan tali atau voltereta.

Tapi sejak kecil, Hugo memutuskan untuk menjadi pemain bola, bukan menjadi pesenam. Dia mengikuti jejak sang ayah, Hector Sanchez, yang pernah jadi pemain klab lokal Asturias dan Atlante.

Seperti sang ayah, Hugo kecil piawai menendang bola. Pada tahun 1976, dia memperkuat tim Meksiko ke Olimpiade Montreal, Kanada. Setahun kemudian, dia memperkuat timnas Meksiko ke Piala CONCACAF. Pada musim 1976-77, dia bergabung dengan klab UNAM sekaligus merebut gelar juara liga Negeri Sombrero itu.

Dua tahun setelah bergabung dengan UNAM, Hugo mencatatkan diri sebagai top skorer Liga Meksiko, dengan rekor 26 gol. UNAM-lah klab profesional Hugo yang pertama. Dia bercokol di sana sampai tahun 1981, meski pernah diselingi memperkuat San Diego Sockers di AS.

Bermodal 99 gol selama lima musim di kampung halaman, Hugo merantau ke tanah kaum matador, Spanyol. Klab pertama yang diperkuatnya adalah Atletico Madrid. Ternyata, sang goleador belum langsung bersinar di Divisi Primera. Dia butuh empat tahun masa adaptasi sebelum sukses menyabet predikat top skorer di Divisi Primera La Liga dengan jumlah gol 19.

Nah, begitu tajinya terlihat, wajar saja jika Hugo dilirik klab raksasa seperti Real Madrid. Presiden Real Madrid saat itu, Ramon Mendoza, membujuk Presiden Atletico, Vicente Calderon, agar merelakan Hugo ke Real Madrid. Tapi nama yang terakhir ini menjawab,” Jika saya membiarkan Hugo pergi ke pihak Anda, pengurus Atletico yang lain akan membenamkan saya ke sungai.”

DUET MAUT

Toh, pada akhirnya, Atletico menyerah pada bujukan klab tetangga sekotanya. Dan Hugo jelas mengangguk pada tawaran dari klab sebesar El Real. Pada musim 1985-86, dia sudah berkostum El Blancos dan bermain bersama bintang-bintang ternama semisal Camacho, Butragueno, Gordillo, Valdano, dan Michel.

Didukung sekelompok pemain bagus, kedahsyatan pemuda Inca ini langsung tak tertahankan. Gelar top skorer alias pichichi digondol Hugo selama empat musim. Bahkan menjadi lima musim jika rekornya di Atletico Madrid ikut dihitung.
Bersama El Real, Hugo menjadi top skorer musim 1985-86 (22 gol), 1986-87 (34 gol), 1987-88 (29 gol), dan 1989-90 (38 gol). Jumlah 38 gol ini sekaligus menyamai perolehan Telmo Zarra yang sebelumnya dianggap mustahil disamai.

Itu gelar pribadi. Sedangkan trofi yang dipersembahkannya bagi Real Madrid adalah 5 gelar juara Divisi Primera secara berturut-turut (1985-1990), Piala UEFA sekali (1986), Piala Spanyol dua kali (1985, 1989), serta Piala Super Spanyol tiga kali (1988, 1989, 1990).

Bersama Hugo Sanchez, Real Madrid menjadi tim yang sangat ditakuti di tanah Spanyol, bahkan Eropa. Bahkan El Real disebut-sebut memiliki sebuah tim super. Gaya permainan mereka sangat berbeda dengan Barcelona.

El Real lebih tajam dan lebih cepat ketimbang seteru klasik mereka itu. Oleh pelatih Leo Beenhakker, konsep permainan Real Madrid dijabarkan sebagai, “…bola harus dibagi untuk semua pemain, kualitas para pemain adalah keuntungan untuk bermain cepat.”

Lebih dari sekadar gaya bermain, El Real ditakuti Barcelona dan semua tim di Divisi Primera karena duet striker mereka: Hugo Sanchez dan anak emas Spanyol saat itu, Emilio Butragueno.

Pada musim 1989-90, Beenhakker turun dari kursi manajer dan digantikan John Toshack. Pelatih boleh berganti, tapi gaya permainan dan ketajaman Real Madrid terus terjaga. Bahkan, musim itu El Real melesakkan 109 gol, sebuah rekor abadi di La Liga. Buat Sanchez, koleksi 38 golnya kala itu membuatnya didaulat sebagai striker terbaik Eropa bersama pemain Bulgaria, Hristo Stoichkov.

Setelah masa-masa emas di Real Madrid, Hugo mulai bosan. Dia hengkang pada tahun 1992 untuk pulang kampung ke Meksiko, ke AS, lalu ke Meksiko lagi sampai menutup karier pada tahun 1997 bersama Athletic Celaya. Uniknya, di penghujung karier itu Hugo bermain bersama dua teman lamanya di Real Madrid, Michel dan Butragueno.
“Biarkan aku berbicara melalui gol-golku,” kata striker berambut ikal yang terkenal pendiam ini.

Selain rentetan gol yang diukir sepanjang karier, Hugo dikenang pula gara-gara cara merayakan gol yang unik, akrobatik, dan agak kontroversial. Ya, itu mirip gerakan senam hasil belajar di masa kecilnya. (reyns) *Dikutip dari Tabloid SOCCER edisi minggu keempat September 2002.

Panutan Meksiko & Real Madrid

Untuk The Aztecas, julukan timnas Meksiko, Hugo tampil pada dua Piala Dunia: 1978 di Argentina dan 1986 di negeri sendiri. Pada Piala Dunia pertamanya, Hugo gagal melesakkan sebiji golpun dan Meksiko kalah tiga kali sampai terlempar dari persaingan.

Tapi di kandang sendiri, Hugo memimpin Meksiko melaju ke perempatfinal pada Piala Dunia ’86 meski dia hanya menyumbang sebuah gol. Itu prestasi tertinggi Tim Sombrero yang baru bisa disamai Rafael Marquez cs di Korea/Jepang 2002.

Di Meksiko ’86 itu, penampilan Hugo memukau dunia. Tapi kekaguman terhadap sosoknya justru lebih tertanam di kalangan pemain Real Madrid setelah generasinya. Raul Gonzalez, ikon Real Madrid saat ini, bahkan tercatat sebagai salah satu pengagum terberat Hugo Sanchez.

Selama 14 tahun membela bendera Meksiko di pentas internasional, Hugo tampil 75 kali dan menngukir 46 gol. Di Divisi Primera La Liga, secara total Hugo mencetak 234 gol. Pantas jika Raul pun terkagum-kagum. (*)

Hugo Sanchez’ Facts
Nama Lengkap: Hugo Sanchez Marquez
Julukan                : Nino de Oro, Hugol
Lahir                       : Mexico DF (Meksiko), 11 Juli 1958
Tinggi/Berat      : 176 cm/73 kg
Posisi                       : Striker
Timnas                  : Meksiko (75 main/46 gol)
Klab                          : UNAM (1975-1979), San Diego Sockers (1979), UNAM (1979-80), San Diego Sockers (1980), UNAM (1980-81), Atlético Madrid (1981-1985), Real Madrid (1985-1992), América (1992-93), Rayo Vallecano (1993-94), Atlante (1994-95), Linz (1995-96), Dallas Burn (1996), Atlético Celayo (1996-97).
Gelar                        : Piala UEFA 1986, Liga Meksiko (1977, 1981), Copa Interamericana 1981, Piala CONCACAF 1980, Divisi Primera La Liga (1986, 1987, 1988, 1989, 1990), Piala Spanyol (1985, 1989), Piala Super Spanyol (1985, 1988, 1989, 1990)
Gelar pribadi      : Sepatu Emas 1990, Striker Terbaik  Liga Meksiko 1981, Pemain Asing Terbaik Divisi Primera La Liga (1987, 1990), Top Skorer Divisi Primera La Liga (1985, 1986, 1987, 1988, 1990), Olahragawan Terbaik Meksiko Abad 20, Pemain Terbaik Amerika Utara & Tengah Abad 20 versi IFFHS.

HALA MADRID !!!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar